Sabtu, 04 Agustus 2012

HIDUP SEHAT TANPA PESTISIDA

Selama 10 tahun terakhir, kerap muncul penyakit yang tidak terdiagnosa. Gejalanya panas, mual, muntah hingga pusing-pusing. Jika sudah terjadi demam selama beberapa hari, banyak dokter yang kemudian mendiagnosa pasien terkena penyakit typhus.

”Ternyata bukan typhus dan sampai sekarang tetap dikategorikan sebagai penyakit tidak terdiagnosa,” kata dokter Rini Damayanti Dipl. CN dari Tidusaniy Green Health Clinic. Rini merujuk pada hasil penelitian yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) dari tahun 1970-an.

Menurut WHO, selama beberapa dekade terakhir banyak penyakit bermunculan karena keracunan zat-zat kimia yang dipergunakan untuk produk pertanian. Sejak revolusi hijau dicanangkan, pemakaian pestisida dan pupuk kimia buatan bertambah marak demi meningkatkan kuantitas dan kualitas pangan. ”Padahal pestisida bersifat karsinogenik dan dapat menimbulkan kanker pada berbagai organ tubuh kita,” tegas dokter yang mendalami natural healing (penyembuhan alami) ini. Di Indonesia memang belum ada penelitian yang membandingkan tingkat kesehatan konsumen yang mengonsumsi produk pertanian dengan pestisida dan yang tanpa pestisida.

Tapi berbagai hasil penelitian yang sudah dilakukan di luar negeri menunjukkan, produk pertanian dengan pestisida memicu proses degenerasi kronik. ”Proses penuaan dini dan penyakit degeneratif kian meninggi selama 30 tahun terakhir,” ujar Rini.

Ia menambahkan, pestisida merupakan produk yang tidak ramah lingkungan karena ia bersifat polutan. ”Ini dengan sendirinya memunculkan radikal-radikal bebas yang ketika masuk ke dalam tubuh kita akan menyebabkan terjadinya kerusakan yang lebih cepat.”

Menurut Rini, pestisida menyebabkan mutasi gen yang cepat pada semua organ makhluk hidup, baik itu serangga maupun manusia. Paparan pestisida yang kontinyu untuk jangka panjang juga bisa memperpendek umur. ”Secara umum, pestisida mengganggu sususan syarat pusat.” Rini menambahkan, waktu paruh masing-masing pestisida berbeda.

”Tapi waktu paruh rata-rata antara 5-10 tahun,” jelas dia. Jika kita terus mengonsumsi makanan dengan pestisida, sementara racun yang sebelumnya masih ada di dalam tubuh, sangat berbahaya. ”Faktor akumulasi inilah yang memunculkan kerusakan pada organ-organ tubuh.” Bukan hanya itu, masuknya racun dari makanan dan minuman secara terus menerus juga akan membuat kerja hati menjadi lebih berat.

Menurut Rini, proses pencucian produk pertanian sebelum diolah tidak menjamin produk tersebut bebas zat kimia. ”Ketika pestisida disemprotkan pada daun, ia tidak hanya tinggal di permukaan, tapi juga menyerap ke sel-sel tumbuhan atau masuk ke urat daun.”

Bukan hanya itu. Pestisida yang disemprotkan juga diserap oleh akar. Memang ada anggapan bahwa kalau sayuran dimasukkan air mendidih selama tiga hingga lima menit bisa menghilangkan pestisida. Tapi Rini tidak yakin mengingat waktu paruh pestisida yang panjang.

Karena itu Rini menyarankan konsumsi produk pertanian tanpa pestisida yang kerap disebut juga dengan sistem pertanian organik. ”Sistem ini memanfaatkan keseimbangan ekosistem untuk bertani,” katanya. Paling tidak, kita harus mengurangi asupan kimia yang didapat dari makanan yang mengandung pestisida.

Selain bebas polutan, produk pertanian organik terbukti bisa dicerna lebih mudah. ”Proses penyerapannya juga maksimal karena tubuh tidak akan menyerap zat-zat beracun dari makanan,” tambah Rini. Di luar itu, berbagai hasil penelitian menunjukkan, produk organik memperlambat proses penuaan.

http://bionasehat.wordpress.com/2008/08/12/organik-bukan-sekedar-gaya-hidup/

MENANAM PADI SECARA ORGANIK

Menanam padi secara organik sama saja dengan bertanam padi secara konvensional (non organik). Jenis padi yang ditanam boleh apa saja, misal kelas aromatik (pandan wangi, mentik, gilirang, dll). Bisa juga menggunakan varietas unggul seperti IR64, Cisadane, Memberamo, dll. Bahkan padi dalam (umur panen rata-rata 6 bulab) dan padi hibrida pun dapat diusahakan menjadi padi organik. Bedanya adalah pada pertanian organik : – Memakai pupuk organik dan tidak memakai pupuk kimia – tidak memakai pestisida kimia Dalam bertanam padi secara organik, pupuk yang digunakan sebagai sumber hara berasal dari pupuk organik seperti : kompos, pupuk kandang, atau sisa tanaman (jerami) yang dibenamkan ke tanah.

Kelebihan pupuk organik adalah berperan dalam mengembalikan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Sementara untuk mengendalikan hama, penyakit, gulma (tanaman pengganggu / rumut) dilakukan secara manual atau dengan menggunakan pestisida alami (biopestisida). Komponen utama pertanian organik adalah memanfaatkan limbah pertanian untuk proses daur ulang digunakan sebagai pupuk tanaman. Termasuk jua sistem pengolahan tanah yang berasakan konservasi, pergiliran tanaman, memanfaatkan tanaman penutup tanah, pemeliharaan ternak, dan analisis tanaman, maupun uji tanah. Selain itu juga menghindarkan sebanyak mungkin penggunaan pestisida/insektisida maupun pupuk kimia serta bahan agrokimia lainnya.

Kamis, 02 Agustus 2012

Beras, Makanan Pokok Tapi Kurang Diperhatikan

Kesehatan memang mahal harganya, oleh karena itu aneka produk kesehatan baik multivitamin maupun aneka suplemen laku keras. Puluhan ribu bahkan mungkin ratusan ribu dibelanjakan untuk aneka produk yang menjanjikan kesehatan tubuh secara instan. Ironisnya, justru beras yang merupakan makanan pokok luput dari pertimbangan dalam menjaga kesehatan. Mayoritas masyarakat beranggapan bahwa semua beras adalah sama. Sehingga pertimbangan ketika membeli beras hanyalah masalah harga dan rasa. Jangankan selisih Rp. 100, selisih Rp. 50 pun kadang dikejar.

Padahal, ada hal yang lebih penting untuk dipertimbangkan sebelum membeli beras, yaitu layak tidaknya beras dikonsumsi dari sisi kesehatan. Setidaknya ada beberapa hal yang menyebabkan beras tidak layak konsumsi :

1. Pencemaran lahan akibat pencemaran limbah industri maupun rumah tangga. Cara paling mudah untuk melakukan test apakah beras anda dari daerah tercemar atau tidak adalah dengan menguji ketahanannya di luar maguc jar (setelah menjadi nasi). Beras dari daerah tercemar akan lebih mudah basi (bau), berair dan berubah warna.
2. Pemakaian pemutih dan pewangi buatan.
3. Pemakaian pestisida kimia yang berlebihan.
4. Pemberantasan hama gudang beras dengan memakai racun Fostoxin, untuk beras yang merupakan stok lama.

Dampak dari konsumsi beras yang terkontaminasi tersebut memang tidak secara langsung dirasakan. Tetapi sedikit demi sedikit bahan berbahaya tersebut tertimbun di tubuh dan akan menimbulkan beragam gangguan kesehatan. Mulai dari pusing-pusing tanpa sebab yang jelas sampai penyakit ganas seperti kanker.

Oleh karena , beras sebagai makanan pokok, harus lebih kita perhatikan kualitasnya. Sudah saatnya kita harus tahu darimana asal beras yang kita konsumsi, bagaimana sistem budidayanya, sekaligus penanganan pasca panennya. Sehingga kita yakin bahwa beras yang kita konsumsi memang sehat dan menyehatkan. Kalau tidak, akan percuma saja puluhan ribu bahkan mungkin ratusan ribu yang dikeluarkan untuk membeli multivitamin, jika pada saat yang sama racun masuk ke tubuh kita justru melalui makanan pokok. Bukankah menjaga agar tidak jatuh sakit adalah lebih bijak daripada mengobatinya ?