Kesehatan memang mahal harganya, oleh karena itu aneka produk kesehatan baik multivitamin maupun aneka suplemen laku keras. Puluhan ribu bahkan mungkin ratusan ribu dibelanjakan untuk aneka produk yang menjanjikan kesehatan tubuh secara instan. Ironisnya, justru beras yang merupakan makanan pokok luput dari pertimbangan dalam menjaga kesehatan. Mayoritas masyarakat beranggapan bahwa semua beras adalah sama. Sehingga pertimbangan ketika membeli beras hanyalah masalah harga dan rasa. Jangankan selisih Rp. 100, selisih Rp. 50 pun kadang dikejar.
Padahal, ada hal yang lebih penting untuk dipertimbangkan sebelum membeli beras, yaitu layak tidaknya beras dikonsumsi dari sisi kesehatan. Setidaknya ada beberapa hal yang menyebabkan beras tidak layak konsumsi :
1. Pencemaran lahan akibat pencemaran limbah industri maupun rumah tangga. Cara paling mudah untuk melakukan test apakah beras anda dari daerah tercemar atau tidak adalah dengan menguji ketahanannya di luar maguc jar (setelah menjadi nasi). Beras dari daerah tercemar akan lebih mudah basi (bau), berair dan berubah warna.
2. Pemakaian pemutih dan pewangi buatan.
3. Pemakaian pestisida kimia yang berlebihan.
4. Pemberantasan hama gudang beras dengan memakai racun Fostoxin, untuk beras yang merupakan stok lama.
Dampak dari konsumsi beras yang terkontaminasi tersebut memang tidak secara langsung dirasakan. Tetapi sedikit demi sedikit bahan berbahaya tersebut tertimbun di tubuh dan akan menimbulkan beragam gangguan kesehatan. Mulai dari pusing-pusing tanpa sebab yang jelas sampai penyakit ganas seperti kanker.
Oleh karena , beras sebagai makanan pokok, harus lebih kita perhatikan kualitasnya. Sudah saatnya kita harus tahu darimana asal beras yang kita konsumsi, bagaimana sistem budidayanya, sekaligus penanganan pasca panennya. Sehingga kita yakin bahwa beras yang kita konsumsi memang sehat dan menyehatkan. Kalau tidak, akan percuma saja puluhan ribu bahkan mungkin ratusan ribu yang dikeluarkan untuk membeli multivitamin, jika pada saat yang sama racun masuk ke tubuh kita justru melalui makanan pokok. Bukankah menjaga agar tidak jatuh sakit adalah lebih bijak daripada mengobatinya ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar